Fakultas Peternakan Gelar "Central Java Rabbit Show 2018"

Submitted by timweb4 on Fri, 10/19/2018 - 16:32
Category: 

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman dalam rangka Dies Natalis Fakultas Peternakan Unsoed ke 52 menggelar acara Central Java Rabbit Show bertajuk “Rabbit for Unity” yang diselenggarakan pada hari minggu, 14 Oktober 2018 digedung Soemardjito Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto yang dimulai pada pukul 08.30 WIB. 

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Dr.sc.agr. Ir. Yusuf Subagyo, MP. sedang memberikan sambutan, sekaligus membuka acara.

Acara dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Dr.sc.agr. Ir. Yusuf Subagyo, MP. selain Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, jajaran pimpinan Fapet unsoed seperti Wakil Dekan Bidang Akademik Novie Andri S, S.Pt, M.Sc, Ph.D, Prof. Ir. Dadang Mulyadi, MS, Ph.D ahli bidang Fisiologi reproduksi ternak, Ketua Bagian Produksi Ternak Dr. Ir. Elly Tugiyanti, MP serta dosen lain dibidang kesehatan ternak ikut hadir dalam acara tersebut.

 

Selain dari jajaran institusi Unsoed hadir juga komunitas pecinta kelinci dari berbagai penjuru wilayah Bralingmascakeb ikut berpartisipasi dan berkompetisi pada acara tersebut. acara tersebut diselenggarakan berkat kerjasama antara HMPS S1 Peternakan Unsoed berkerjasama dengan Purwokerto rabbit Club (PRC), dan Indo  Rabbit Fest (IBF) pada kesempatan tersebut yang diketuai oleh Akbar Nugroho Aji dan dari HMPS S1 Peternakan Safrial.

Kategori yang dilombakan 10 varietas yang masuk dalam kompetisi PRC yakni mulai dari Holland Lop. Ada pula Flemish Giant yakni kelinci raksasa. Selain itu ada juga kelinci jenis Californian, France Anggora, American Fuzzy Lop, Netherland Dwarf, Jersey Wolly, Lion Head, New Zealand White, dan sebagainya. Kontes ini memainkan 11 kategori masing-masing ras Reex, Minireex, New Zealand dan Extrime adu bobot. Pada kompetisi tersebut yang bertindak sebagai juri adalah Arie Wardhani (Arba Judge #979), Adhisuryo W, Adi Rosdiantoro. total peserta dari tiga kategori yang dilombakan, Flemish Giant, New Zealand dan Rex berjumlah 180. Mereka berasal dari Tegal Pekalongan, Pemalang, Purbalingga, Cilacap, Tasik, Semarang, Jogjakarta, Temanggung, dan Magelang.

Jenis-jenis kelinci tersebut bisa dibedakan dari ukuran, lebat bulu, warna, kepala dan tentunya adalah telinga. Telinga kelinci memang menjadi ciri khas binatang satu ini yang membuatnya semakin lucu apalagi dengan bulu yang lebat. Jadi jangan kaget ketika melihat kelinci tapi perawakannya bukan seperti kelinci.

Banyak masyarakat kurang begitu mengenal kandungan gizi pada kelinci, juga cara perawatan untuk memelihara kelinci. “Padahal, daging kelinci memiliki kandungan tinggi protein, rendah kolesterol, rendah lemak jenuh dan rendah kadar sodium (garam).” Dengan kandungan gizi yang tinggi banyak rumah makan, restoran yang menyajikan olahan daging kelinci, melihat pangsa pasar yang semakin meningkat menimbulkan kesenjangan antara kebutuhan konsumtif dengan produktif kurang seimbang. Semakin banyaknya kebutuhan pasar semakin besar peluang untuk berwirausaha dengan beternak kelinci.