Mahasiswa Berprestasi Fapet 2015 Goes To Cambodia

Submitted by timweb4 on Tue, 10/06/2015 - 10:50
Mahasiswa Berprestasi Fapet 2014 Goes To Cambodia
Category: 

Phonm Penh, Cambodia 29 September s/d 4 Oktober 2015, Dalam rangka mempererat hubungan antar sesama anggota Asean, Indonesia memandang bahwa bukan hanya dalam bentuk perdagangan dan kerjasama dalam bidang politik melainkan dari sisi budaya Indonesia juga berperan aktif melalui pengenalan budaya agar bisa menambah unsur kedekatan antar negara terutama di Asean. Untuk itu melalui Indonesia Youth Culture Exchange Cambodia 2015 berusaha untuk mengetahui lebih banyak ilmu pengetahuan, budaya, dan bahasa didunia Internasional. Melalui seleksi yang ketat oleh seventeen Project terpilihlah beberapa wakil mahasiswa Indonesia yang salah satunya berasal dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto,dalam hal ini Mahasiswa dari Fakultas Peternakan Unsoed yang terpilih untuk mewakili atas nama Githa Eka Noviantika.

Seperti yang diungkapkan oleh Githa Eka selama mengikuti kegiatan tersebut “Awalnya saya hanya bermimpi ke luar negeri, tetapi saya memiliki tekad yang kuat untuk bisa ke luar negeri semasa saya menjadi mahasiswa. Akhirnya saya berniat untuk membuat passport tanpa tahu tujuan kemana. Saya berharap bisa terisi passport nya. Dan 2 minggu kemudian saya sering sekali buka internet melihat banyak info di grup facebook dan teman saya memberikan info event ke jepang dan saya menemukan info ke kamboja. Akhirnya secara bersamaan saya daftar atau registrasi dengan persyaratan mengisi form identitas, passport, IPK, organisasi dan prestasi, essay tentang kebudayaan indonesia, kemampuan bakat seni seperti tarian tradisional, dan motivasi mengikuti kegiatan. semuanya ditulis dalam bahasa inggris. Awalnya hanya coba2 daftar ke 2 negara. Tetapi pada saat pengumuman secara bersamaan tanggal bersamaan ternyata saya dinyatakan lolos oleh lembaga NGO yg bergerak di bidang sosial kebudayaan CBT (culture based tourism) yang bertujuan untuk supporting asean community. Diantara keduanya akhirnya saya memilih salah satu saja karena jaraknya terlalu berdekatan. Dan saya tertarik cambodia. Setelah itu saya mempersiapkan proposal pengajuan ke fakultas dan universitas dan alhamdulillah mendapat persetujuan dekan untuk didanai keberangkatan kesana selama 7 hari. Saya mengajukan proposal juga ke dinas kebudayaan untuk peminjaman baju adat dan saya mendapatkan sponsor batik trusmi cirebon untuk membagikan batik indonesia di cambodia agar batik lebih terekspose ke luar negara bahwasanya batik adalah khas indonesia, dan disana melakukan presentasi mengenai batik.

Pendaftar se indonesia sekitar 100 orang, dan yang diambil hanya 18 orang dari berbagai universitas dan universitas jenderal soedirman adalah salah satu yg terpilih diantaranya.

Hari pertama kami ke royal university of phnom penhm, disana kami presentasi antara cambodia dan indonesia membahas banyak hal seperti perbedaan indonesia cambodia, apa yang mereka tahu tentang indonesia dan seberapa pentingnya volunter and tourism. Disana berdiskusi selama 1 jam. Dan saya ditemani oleh chea sonean and phynoch dari universitas tersebut dan berharap kami bisa melakukan kontak di lain waktu. Kemudian kami ke the british english course bertemu organisasi ayla (asean youth leaders association) membahas culture expose exchange, peace camp, bussines expo and debate club tingkat asean. Dan disitu kami di perkenalkan dan diajarkan bahasa khmer cambodia. Setelah itu kami berkujung ke KBRI phnom penh cambodia dan dijelaskan terkait hubungan antara cambodia indonesia. Dan beliau menjelaskan beberapa kemiripan seperti wajah orang cambodia indonesia dan wisatanya di angkor wat cambodia dan prambanan indonesia, ternyata memiliki sejarah yang berkaitan diantara kedua negara. Saya fikir tidak akan sampai di fakultas peternakan karena ini kaitanya dengan budaya, dan ternyata bapak muhsinin selaku sekertaris 1 kbri cambodia menjelaskan bahwa peternakan di cambodia belum menuju industrialisasi dan masih berupa peternakan rakyat dan dipelihara didepan rumah.


Hari kedua ketiga keempat kami tinggal di siem reap yang berada di desa tertinggal di cambodia. Disana banyak sekali turis dan donatur dari luar negeri yang memberikan banyak sumbangan. Saya terkejut ternyata beberapa orang desa pintar berbahasa inggris, disana saya bertemu dengan organisasi BFT (build future today) berasal dari australia. Dan dijelaskan oleh mr. John founder BFT tentang keadaan kamboja khususnya di desa di siem reap. Disana kami turun ke warga melihat keadaan sekitar dan ternyata banyak ternak sapi di biarkan didepan rumah bersama ayam kampung. Kemudian kegiatan kita menanam pohon di sekitar rumah warga dan mengajar bahasa kepada anak2 kecil dan dibantu translater oleh mrs. Aim and mr. Vudhty houn. Hari selanjutnya kami berkunjung ke pagoda karena sebagian besar masyarakatnya beragama hindu dan budha. Setelah itu, kami belajar membuat souvenir tradisional di rumah warga dan melakukan check kesehatan oleh mrs. Chaterine dari australia. Kegiatan malam hari adalah pertunjukan kebudayaan. Kami menampilkan kebudayaan indonesia berupa tari tradisional dan nyanyian tradisional indonesia serta memakai pakaian adat masing2 dari berbagai daerah di indonesia. Disana saya mendapatkan banyak hal terutama arti dari sebuah kepedulian dan ragamnya budaya bahasa yang dapat menyatukan bangsa.


Hari terakhir kami belajar sejarah singkat angkor wat dan hubungannya dengan prambanan di indonesia. Berdasarkan sejarah, raja cambodia pernah menetap di jawa tengah setelah itu sang raja terinpirasi dengan prambanan di yogyakarta dan akhirnya raja membuat serupa di cambodia.Tahun depan project ini akan ke thailand. Harapanya saya adalah adik2 kelas saya mau mengikuti jejak positif untuk program positif yang memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain baik dalam negeri maupun luar negeri.

Semoga kegiatan ini bisa menambah wawasan dan pengalaman bagi para mahasiswa Indonesia dan bisa memberikan motivasi yang tinggi agar terus mengembangkan budaya, Bahasa dan Ilmu Pengetahuan.( psifapet).