- 22 Jul, 2026
- Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
- comments off
Dosen Universitas Wijayakusuma Purwokerto Raih Gelar Doktor di Unsoed, Tawarkan Model Baru Pengembangan Itik Lokal Berbasis Agroekologi
fapet.unsoed.ac.id – Upaya membangun peternakan unggas yang lebih adaptif terhadap karakter wilayah menjadi fokus penelitian yang mengantarkan Supranoto, dosen Fakultas Peternakan Universitas Wijayakusuma (UNWIKU) Purwokerto, meraih gelar Doktor Ilmu Peternakan di Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Aula Lantai 3 Gedung B Fakultas Peternakan Unsoed, Rabu (22/7/2026), Supranoto mempertahankan disertasi berjudul “Kajian Karakteristik Itik Lokal Berdasarkan Zona Agroekologi sebagai Dasar Model Pengembangan Berkelanjutan.“ Penelitian tersebut menawarkan pendekatan baru dalam pengembangan itik lokal Indonesia dengan menempatkan kondisi agroekologi sebagai dasar penyusunan strategi budidaya yang lebih tepat sasaran.
Penelitian ini lahir dari kenyataan bahwa produktivitas itik lokal di Indonesia masih belum optimal, meskipun memiliki potensi genetik yang besar. Selama ini, pengembangan peternakan cenderung menggunakan pendekatan yang seragam, padahal setiap wilayah memiliki karakter lingkungan, sumber pakan, dan tantangan yang berbeda. Berangkat dari kondisi tersebut, Supranoto mengembangkan model pengelolaan yang mempertimbangkan perbedaan zona agroekologi, mulai dari kawasan pesisir hingga dataran tinggi.

Dalam disertasinya, Supranoto meneliti empat zona agroekologi di Jawa Tengah bagian selatan, yakni wilayah pesisir Cilacap, dataran rendah Purbalingga, dataran sedang Banyumas, dan dataran tinggi Wonosobo. Penelitian juga membandingkan tiga sistem pemeliharaan itik, yaitu sistem gembala (ekstensif), koloni (semi-intensif), dan baterai (intensif). Analisis dilakukan secara komprehensif dengan menggabungkan aspek nutrisi pakan alami, karakter morfometri, fisiologi ternak, produktivitas telur, kualitas telur, hingga analisis keberlanjutan usaha peternakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pakan alami menjadi faktor pembatas utama produktivitas itik lokal. Kandungan protein pakan alami di berbagai zona hanya berkisar 8,70–12,11 persen, masih jauh di bawah kebutuhan ideal itik petelur. Kondisi tersebut menyebabkan produktivitas telur belum mampu mencapai potensi maksimal sehingga diperlukan formulasi pakan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah.
Temuan penting lainnya menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan faktor wilayah terhadap produktivitas telur. Sistem koloni atau semi-intensif terbukti mampu menghasilkan produktivitas tinggi sekaligus memberikan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Berdasarkan analisis keberlanjutan, model tersebut memperoleh nilai tertinggi dan direkomendasikan sebagai model pengembangan peternakan itik lokal di masa depan.

Selain menghasilkan model “Koloni Adaptif Berbasis Zona Agroekologi“, penelitian ini juga mengidentifikasi tujuh faktor strategis yang menjadi pengungkit keberhasilan pengembangan peternakan itik, mulai dari efisiensi biaya pakan, ketersediaan pakan lokal, pencatatan produksi, biosekuriti, akses permodalan, kemitraan usaha, hingga penguatan kelembagaan kelompok peternak. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, akademisi, maupun pelaku usaha dalam menyusun kebijakan pembangunan peternakan yang lebih berkelanjutan.
Supranoto sendiri bukan sosok baru dalam dunia akademik peternakan. Ia merupakan dosen Fakultas Peternakan Universitas Wijayakusuma Purwokerto yang telah lama berkecimpung dalam bidang pendidikan dan penelitian peternakan. Pendidikan Sarjana diselesaikannya di Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 1986, kemudian meraih gelar Magister Ilmu Peternakan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1999. Pendidikan doktor ditempuh di Program Studi Doktor Ilmu Peternakan Universitas Jenderal Soedirman sejak tahun 2022 hingga berhasil diselesaikan pada tahun 2026.
Selama menempuh studi doktoral, Supranoto juga aktif menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional. Beberapa karya ilmiahnya membahas sintesis pertumbuhan dan reproduksi itik Asia, epidemiologi penyakit itik secara global, kualitas telur berdasarkan sistem pemeliharaan di Indonesia tropis, serta karakterisasi itik lokal Jawa Tengah berdasarkan zona agroekologi. Dua publikasi terakhir menjadi luaran utama penelitian disertasinya dan memperkuat kontribusi akademiknya dalam pengembangan ilmu peternakan.

Ujian terbuka dipimpin oleh Dr. Ir. Titin Widiyastuti, S.Pt., M.P., IPM selaku Ketua Sidang dengan Dr. Ir. Setya Agus Santosa, S.Pt., M.P., IPM sebagai Sekretaris Sidang. Disertasi dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P., IPU., ASEAN Eng. sebagai Promotor dan Ir. Novie Andri Setianto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. sebagai Ko-Promotor. Sementara itu, tim penguji terdiri atas akademisi dari Universitas Diponegoro dan Fakultas Peternakan Unsoed.
Prosesi promosi doktor turut dihadiri pimpinan Fakultas Peternakan Unsoed, sivitas akademika, keluarga promovendus, serta jajaran pimpinan Universitas Wijayakusuma Purwokerto yang hadir sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan salah satu dosennya meraih gelar akademik tertinggi. Kehadiran kedua institusi tersebut sekaligus mencerminkan semakin eratnya kolaborasi antarp perguruan tinggi dalam memperkuat pengembangan riset dan sumber daya manusia di bidang peternakan.
Bagi Fakultas Peternakan Unsoed, promosi doktor tidak hanya menjadi tahapan akhir pendidikan akademik, tetapi juga menjadi wadah lahirnya inovasi yang diharapkan mampu memberikan solusi nyata bagi pembangunan peternakan nasional. Disertasi Supranoto menjadi salah satu kontribusi ilmiah yang menawarkan pendekatan baru dalam pengembangan itik lokal Indonesia melalui model budidaya yang disesuaikan dengan karakter agroekologi setiap wilayah, sehingga lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan.
