Cara Menggunakan Gas N2O dengan Bijak sebagai Mahasiswa Peternakan

# # #

Cara Menggunakan Gas N2O dengan Bijak sebagai Mahasiswa Peternakan

fapet.unsoed.ac.id – Akhir-akhir ini media sosial diramaikan dengan meninggalnya seorang pemengaruh nasional. Meninggalnya orang tersebut menimbulkan perdebatan besar di sosial media tentang penyebab meninggalnya. Salah satu asumsi yang ramai dibicarakan tentang penyebab meninggalnya pemengaruh tersebut adalah karena penyalahgunaan gas Dinitrogen Monoksida/Nitrous Oxide (N2O) atau istilah lainnya adalah gas tertawa.

Dirilis dari Wikipedia berbahasa Inggris, “Nitrous oxide (N₂O) atau laughing gas adalah senyawa kimia berbentuk gas tidak berwarna dengan aroma agak manis yang telah dikenal sejak akhir abad ke-18. Gas ini memiliki efek anestetik, analgesik, dan euforia ringan, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang medis, industri, dan kehidupan sehari-hari. Selain digunakan oleh manusia, nitrous oxide juga secara alami terdapat di atmosfer dan berperan dalam siklus nitrogen, meskipun konsentrasinya terus meningkat akibat aktivitas manusia, terutama dari sektor pertanian.

Dalam penggunaannya, nitrous oxide banyak diaplikasikan di bidang kesehatan sebagai gas anestesi dan pereda nyeri pada tindakan bedah, perawatan gigi, persalinan, dan layanan darurat. Di sektor industri dan teknologi, gas ini digunakan sebagai oksidator pada mesin kendaraan balap dan roket, serta sebagai propelan aerosol pada produk pangan seperti whipped cream. Nitrous oxide juga berperan penting dalam industri kimia dan manufaktur, sekaligus menjadi komponen yang tidak terpisahkan dari proses biologis dan mikrobiologis di tanah dan perairan.

Manfaat utama nitrous oxide terletak pada kemampuannya mengurangi rasa nyeri dan kecemasan secara cepat dan efektif jika digunakan sesuai standar keselamatan. Namun, di balik manfaat tersebut terdapat potensi bahaya. Penyalahgunaan secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan saraf akibat defisiensi vitamin B12, hipoksia, hingga kerusakan neurologis permanen. Dari sisi lingkungan, nitrous oxide merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat dan berkontribusi terhadap pemanasan global serta penipisan lapisan ozon. Oleh karena itu, pemanfaatan nitrous oxide perlu dikendalikan secara bijak agar manfaat kesehatan dan industrinya tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia dan lingkungan.”

Kaitannya dengan mahasiswa peternakan, berita yang akhir-akhir ini viral di sosial media harus membuat mahasiswa menjadi semakin bijak. Sebagai mahasiswa yang bijak, meskipun banyak mendapatkan tekanan akademik sudah seharusnya menghindari kegiatan rekreasi yang menyebabkan kerusakan atau bahkan kehilangan nyawa. Salah satu aktivitas rekreasi yang berbahaya tersebut adalah penyalahgunaan gas tertawa (N2O) untuk rekreasi dan relaksasi.

Bagaimana penyalahgunaan N2O?
Penggunaan nitrous oxide (N₂O) secara rekreasional umumnya dilakukan dengan cara menghirup gas melalui balon yang diisi dari tabung kecil (whippits/nangs) atau tabung bertekanan besar, dan dalam praktik yang berisiko tinggi gas sering dihirup langsung tanpa campuran oksigen. Tujuannya adalah memperoleh efek cepat berupa euforia, rasa ringan pada tubuh, tawa spontan, serta perubahan persepsi, yang terjadi karena N₂O dengan cepat mencapai otak dan menghambat reseptor NMDA serta memodulasi sistem GABA dan sistem opioid endogen. Karena efeknya sangat singkat, pengguna kerap mengulang inhalasi berkali-kali dalam satu sesi, sehingga meningkatkan paparan gas dan menurunkan kewaspadaan. Dampak awal yang muncul meliputi pusing, disorientasi, gangguan koordinasi, dan penurunan kesadaran, disertai risiko cedera akibat jatuh atau kecelakaan. Pada penggunaan berulang atau dosis besar, N₂O dapat menonaktifkan vitamin B₁₂ dan menyebabkan gangguan saraf serius, seperti mati rasa, gangguan berjalan, hingga kerusakan neurologis permanen. Pada kondisi paling berat, inhalasi N₂O murni tanpa oksigen dapat menyebabkan hipoksia akut karena oksigen di paru-paru tergantikan oleh gas, yang berlanjut pada gagal napas, gangguan irama jantung, kehilangan kesadaran, dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian mendadak, terutama bila dilakukan secara terus-menerus, di ruang tertutup, atau dengan alat inhalasi yang menutup jalan napas.

Lalu, bagaimana cara memanfaatkan N2O secara bijak untuk mahasiswa peternakan?
Gas N2O dapat digunakan secara bijak oleh mahasiswa peternakan untuk melakukan bius pada hewan (sebagai bius pendamping) dan juga digunakan untuk pembuatan Whipped Cream.
Mahasiswa peternakan pasti sangat memahami tentang cream. Menurut Smiddy et al. ((2009) ed. Tamime) Cream adalah emulsi terkonsentrasi globula lemak susu dalam fase skim yang diperoleh melalui proses pemisahan susu, dan diklasifikasikan berdasarkan kadar lemak maupun fungsi penggunaannya. Berdasarkan kandungan lemak, cream meliputi light coffee cream (<10%), coffee cream (15–18%), single atau half cream (15–25%), full cream (30–40%), hingga double cream (45–50%), sedangkan berdasarkan fungsi dikenal whipping cream, coffee cream, dan cream liqueur. Secara historis, cream awalnya merupakan produk mewah yang diperoleh melalui pemisahan gravitasi dengan membiarkan susu segar hingga lemak naik ke permukaan, sebelum akhirnya teknologi sentrifugal menggantikan metode tradisional tersebut karena lebih cepat, efisien, dan higienis. Seiring perkembangan teknologi pangan, cream kini menjadi bahan penting dalam berbagai produk olahan susu dan kuliner, mulai dari mentega dan es krim hingga saus, kue, dan minuman.

Proses pembuatan cream diawali dengan pemisahan susu menggunakan separator sentrifugal untuk menghasilkan susu skim dan cream, kemudian dilakukan standarisasi kadar lemak sesuai kebutuhan. Selanjutnya cream diberi perlakuan panas melalui pasteurisasi atau UHT untuk menjamin keamanan dan memperpanjang umur simpan, serta pada jenis tertentu dilakukan homogenisasi agar tidak mudah memisah selama penyimpanan. Cream dapat diolah lebih lanjut melalui fermentasi menjadi sour cream, pembekuan, pengeringan, atau pencampuran dengan gula dan alkohol untuk menghasilkan cream liqueur. Dalam penggunaannya, cream dimanfaatkan sebagai bahan hidangan manis dan gurih, pelengkap minuman seperti kopi, topping berupa whipped cream, bahan minuman beralkohol, maupun dalam bentuk fermentasi, sehingga menjadi komponen penting dalam industri pangan dan kuliner modern.

Selanjutnya, whipped cream adalah Whipped cream adalah produk olahan susu berupa krim yang diaerasi sehingga membentuk busa lembut dan stabil akibat terperangkapnya gas atau udara di dalam matriks lemak susu. Penggunaan nitrous oxide (N₂O) secara aman dalam pembuatan whipped cream dilakukan dengan memakai dispenser khusus bertekanan N₂O dan tabung food grade, memastikan seluruh peralatan bersih dan kering, serta menggunakan krim segar dengan kadar lemak minimal 30% agar gas dapat terikat dengan baik; perisa seperti gula halus atau vanila dapat ditambahkan sebelum pengisian. Umumnya digunakan 1 tabung N₂O (±8 g) untuk ±0,5 liter krim, menghasilkan tekanan kerja di dalam dispenser sekitar 7–9 bar, yang cukup untuk membentuk busa stabil tanpa merusak struktur lemak. Krim dimasukkan hingga batas yang dianjurkan, dispenser ditutup rapat, tabung dipasang lalu gas dilepaskan sesuai petunjuk, dikocok beberapa kali, dan disimpan tegak di lemari pendingin. Aspek keselamatan mencakup larangan menghirup N₂O, bekerja di area berventilasi baik, memeriksa tabung agar tidak rusak, menyimpan tabung di tempat sejuk dan kering, serta membuang tabung kosong sesuai aturan limbah logam. Dalam industri pangan, N₂O dimanfaatkan karena kelarutannya tinggi dalam lemak sehingga menghasilkan busa lembut dan stabil; meski tidak memiliki nilai ADI resmi karena tidak terakumulasi dalam tubuh, penggunaannya dibatasi pada kisaran aman industri, sementara paparan inhalasi di lingkungan kerja dijaga <50 ppm untuk mencegah risiko kesehatan dan dampak lingkungan sebagai gas rumah kaca (Adhikari et al., 2018).

Sebagai mahasiswa peternakan, pemahaman terhadap nitrous oxide (N₂O) harus ditempatkan dalam kerangka keilmuan, etika, dan keselamatan. Gas N₂O bukanlah zat rekreasi, melainkan bahan yang memiliki fungsi jelas dan bermanfaat apabila digunakan sesuai standar, seperti sebagai anestesi pendamping pada hewan dalam praktik veteriner dan sebagai propelan pangan pada pembuatan whipped cream dengan dosis, alat, dan prosedur yang tepat. Penyalahgunaan N₂O untuk rekreasi justru bertentangan dengan nilai akademik, berisiko tinggi terhadap kesehatan hingga kematian, serta mencederai tanggung jawab moral mahasiswa sebagai calon sarjana peternakan. Oleh karena itu, menggunakan gas N₂O secara bijak berarti membatasi pemanfaatannya hanya pada konteks pendidikan, penelitian, dan aplikasi profesional yang aman, sehingga ilmu yang dipelajari tidak hanya menghasilkan produk dan teknologi yang bermanfaat, tetapi juga mencerminkan sikap ilmiah, kepedulian terhadap keselamatan, dan tanggung jawab terhadap sesama manusia dan lingkungan.

Sumber:
Adhikari, B. M., Truong, T., Bansal, N., & Bhandari, B. (2018). Use of gases in dairy manufacturing: A review. Critical reviews in food science and nutrition58(15), 2557-2569.
Tamime, A. Y.. (2009). Dairy Fats and Related Products (Tamime/Dairy Fats and Related Products) || Cream and Related Products. , (), 61–85.
  • Share

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman