Fapet Unsoed Perkuat Penyusunan RPS Berbasis OBE, Dorong Pembelajaran dan Asesmen Lebih Terukur

# # #

Fapet Unsoed Perkuat Penyusunan RPS Berbasis OBE, Dorong Pembelajaran dan Asesmen Lebih Terukur

fapet.unsoed.ac.id – Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) terus memperkuat implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) melalui Workshop Penyusunan Revisi Kurikulum: Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan Pengukuran Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Selasa (11/8/2026), di Ruang Rapat I Fapet Unsoed.

Workshop menghadirkan dua narasumber dari Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMPP) Unsoed, Dr. Wisnu Widjanarko, S.Sos., M.Psi. dan Ardiansyah, S.TP., M.Si., Ph.D., serta diikuti Tim Gugus Penjaminan Mutu (GPM) dan Gugus Kendali Mutu (GKM) dan dosen penanggung jawab mata kuliah Fapet Unsoed.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fapet Unsoed, Dr. Ir. Setya Agus Santosa, S.Pt, M.P., IPM.. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa penyempurnaan kurikulum perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan proses pendidikan tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan dunia kerja, serta tuntutan kompetensi lulusan.

Menurutnya, keberhasilan kurikulum tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan dokumen, tetapi juga oleh sejauh mana kurikulum tersebut mampu diterjemahkan ke dalam proses pembelajaran yang terarah dan dapat diukur. Karena itu, penyusunan RPS menjadi bagian penting untuk memastikan keterkaitan antara capaian pembelajaran, proses pembelajaran, pengalaman belajar mahasiswa, dan asesmen.

Pada sesi pertama, Dr. Wisnu Widjanarko, S.Sos., M.Psi. menjelaskan kerangka berpikir kurikulum berbasis OBE dengan menekankan keterkaitan antara Profil Lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), dan RPS.

Menurutnya, OBE menempatkan capaian pembelajaran sebagai orientasi utama dalam merancang proses pendidikan. Karena itu, setiap mata kuliah perlu memiliki kontribusi yang jelas terhadap CPL program studi. Kontribusi tersebut kemudian diterjemahkan melalui CPMK dan dirancang secara operasional dalam RPS melalui aktivitas pembelajaran serta asesmen yang sesuai.

Pembahasan tidak berhenti pada konsep. Pada sesi kedua, Ardiansyah, S.TP., M.Si., Ph.D. membawa peserta pada aspek teknis penyusunan dan pengisian RPS. Peserta diajak memahami bagaimana setiap komponen RPS disusun secara berurutan dan saling berkaitan, mulai dari identitas mata kuliah, pemetaan CPL yang dibebankan pada mata kuliah, perumusan CPMK, bahan kajian, metode pembelajaran, hingga bentuk pengalaman belajar mahasiswa.

Ardiansyah menekankan bahwa CPMK perlu dirumuskan secara spesifik dan terukur sebagai turunan dari CPL yang dibebankan pada suatu mata kuliah. Dengan demikian, CPMK tidak hanya menjadi pernyataan umum mengenai kemampuan mahasiswa, tetapi menjadi dasar dalam menentukan apa yang harus dipelajari, aktivitas apa yang perlu dilakukan mahasiswa, serta bagaimana kemampuan tersebut akan dinilai.

Dalam proses pengisian RPS, peserta juga diarahkan untuk memastikan adanya kesinambungan antara CPMK, sub-CPMK, materi pembelajaran, metode pembelajaran, aktivitas mahasiswa, dan bentuk asesmen. Keterkaitan tersebut penting agar setiap kegiatan perkuliahan memiliki tujuan yang jelas dan setiap bentuk penilaian benar-benar mengukur kemampuan yang telah direncanakan.

Lebih lanjut, sesi teknis membahas bagaimana menyusun indikator ketercapaian pembelajaran serta menentukan teknik dan bobot penilaian. Melalui pendekatan tersebut, nilai yang diperoleh mahasiswa tidak sekadar menjadi hasil akhir perkuliahan, tetapi dapat digunakan untuk melihat sejauh mana capaian pembelajaran telah dikuasai.

Peserta juga diajak mencermati berbagai kemungkinan penerapan RPS berbasis OBE pada mata kuliah masing-masing. Diskusi berkembang pada persoalan praktis, seperti menentukan CPMK yang relevan, memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan capaian, merancang tugas dan aktivitas mahasiswa, serta menyelaraskan instrumen penilaian dengan kompetensi yang hendak dicapai.

Narasumber juga menyampaikan permasalahan yang muncul dalam penyusunan RPS. Interaksi tersebut membuat pembahasan OBE tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi bergerak menuju penerapan yang lebih nyata dalam proses pembelajaran di program studi.

Dengan Workshop Penyusunan Revisi Kurikulum, Fapet Unsoed berupaya memastikan bahwa revisi kurikulum tidak berhenti pada penyusunan dokumen, tetapi dapat diterjemahkan secara konsisten ke dalam praktik pembelajaran. Penyusunan RPS berbasis OBE diharapkan mampu memperkuat keterhubungan antara CPL, CPMK, proses pembelajaran, dan asesmen, sehingga capaian kompetensi mahasiswa dapat direncanakan, dilaksanakan, dan diukur secara lebih terarah.

  • Share

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman