- 12 Feb, 2026
- Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
- comments off
Inovasi Berbasis Sains Tropis: Doktor Fapet Unsoed Petakan Adaptasi dan Reproduksi Sapi FH
fapet.unsoed.ac.id – Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) kembali meluluskan doktor baru melalui Ujian Promosi Doktor Program Studi S3 Peternakan, Kamis (12/2/2026). Apsari Kumalajati (NIM D3A019001) dinyatakan lulus dengan predikat A setelah mempertahankan disertasi berjudul “Indeks Adaptasi dan Kinerja Reproduksi Hubungannya dengan Konsentrasi Hormon dan Metabolit Darah pada Sapi Perah Dara Impor dari Australia.” Ujian berlangsung secara hybrid di Aula Lantai 3 Fapet Unsoed.

Sidang dipimpin Ir. Novie Andri Setianto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. dengan Promotor Prof. Dr. Ir. Mas Yedi Sumaryadi, M.S., IPU., ASEAN Eng. dan Co-Promotor Prof. Dr. Ir. Dadang Mulyadi Saleh, M.S., M.Agr.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. Tim penguji juga menghadirkan Prof. Ir. Mulyoto Pangestu, M.Rep.Sc., Ph.D. dari Monash University.
Penelitian Apsari menyoroti tantangan adaptasi sapi Friesian Holstein (FH) dara impor dari Australia di iklim tropis Indonesia. Di tengah tingginya kebutuhan susu nasional dan ketergantungan pada impor sapi dara, aspek adaptasi menjadi faktor krusial yang memengaruhi keberhasilan reproduksi dan produktivitas.

Melalui penelitian eksperimental di BBPTU-HPT Baturraden, ia menemukan bahwa sapi FH impor mengalami stres panas kronis dengan nilai Temperature Humidity Index (THI) 76,2 atau kategori stres sedang. Kondisi ini memicu peningkatan hormon kortisol sebagai respons fisiologis terhadap tekanan lingkungan. Dampaknya, terjadi gangguan keseimbangan metabolik dan hormonal yang berpengaruh pada performa reproduksi.
Pada tahap berikutnya, penelitian menunjukkan intensitas berahi yang lebih rendah, peningkatan angka service per conception, serta penurunan angka kebuntingan. Ketidakseimbangan energi yang tercermin dari profil metabolit darah terbukti berkorelasi dengan rendahnya keberhasilan reproduksi.
Intervensi hormonal menggunakan kombinasi PGF₂α dan GnRH mampu meningkatkan respons estrus dan kadar estrogen pra-inseminasi. Namun, kadar metabolit seperti NEFA, BHBA, dan BUN yang tinggi tetap berkorelasi negatif terhadap peluang kebuntingan. Temuan ini menegaskan bahwa perbaikan reproduksi tidak cukup hanya melalui hormon, tetapi harus ditopang stabilitas metabolik dan manajemen adaptasi yang baik.

Secara konseptual, disertasi ini menawarkan pendekatan terintegrasi antara indeks adaptasi berbasis stres panas, profil hormon, dan metabolit darah dalam evaluasi reproduksi sapi perah tropis. Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk memperkuat manajemen pemeliharaan sapi impor, terutama dalam aspek adaptasi iklim, penguatan nutrisi berbasis metabolic profiling, serta perancangan program reproduksi berbasis monitoring fisiologis.
Ketua Sidang menyebut penelitian ini memiliki nilai strategis bagi pengembangan sapi perah tropis. “Ini bukan sekadar riset akademik, tetapi pijakan ilmiah untuk perbaikan manajemen peternakan modern,” ujarnya.
Promotor, Prof. Dr. Ir. Mas Yedi Sumaryadi, M.S., IPU., ASEAN Eng, menyampaikan apresiasi atas konsistensi ilmiah dan ketekunan promovendus.
“Disertasi ini membuktikan bahwa keberhasilan reproduksi tidak berdiri sendiri. Ia merupakan hasil orkestrasi adaptasi lingkungan, stabilitas metabolik, dan regulasi hormonal. Saudari Apsari telah menghadirkan kontribusi ilmiah yang signifikan bagi pengembangan sapi perah tropis.”

Beliau menambahkan bahwa gelar doktor membawa konsekuensi moral dan akademik yang besar.
“Gelar ini bukan puncak, melainkan awal tanggung jawab keilmuan yang lebih luas. Seorang doktor harus menjadi penjaga integritas sains, penggerak inovasi, dan rujukan ilmiah bagi masyarakat.”
Dengan diketoknya palu sidang, resmi sudah Dr. drh. Apsari Kumalajati, M.Si menyandang gelar Doktor di bidang Peternakan. Lebih dari sekadar capaian personal, keberhasilan ini menjadi energi baru bagi Fapet Unsoed dalam memperkuat peran akademisi sebagai lokomotif inovasi, sekaligus mitra strategis dalam mewujudkan kedaulatan susu nasional berbasis sains tropis yang berkelanjutan.
