Limbah Peternakan Disulap Jadi Pupuk Bernilai Ekonomi, Fapet Unsoed Terapkan Riset Biourine Diperkaya Gamal di Purbalingga

# # #

Limbah Peternakan Disulap Jadi Pupuk Bernilai Ekonomi, Fapet Unsoed Terapkan Riset Biourine Diperkaya Gamal di Purbalingga

fapet.unsoed.ac.id – Di tengah meningkatnya kebutuhan pupuk organik sekaligus persoalan pengelolaan limbah peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) menghadirkan solusi berbasis riset yang dapat langsung diterapkan masyarakat. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026, tim dosen Fapet Unsoed memperkenalkan teknologi produksi biourine yang diperkaya ekstrak Gamal kepada Kelompok Tani Ternak (KTT) Purbalingga Farm, Sabtu (1/8/2026).

Program tersebut menjadi salah satu bentuk hilirisasi hasil penelitian perguruan tinggi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi diterapkan langsung untuk menjawab kebutuhan petani dan peternak. Melalui teknologi sederhana berbasis aerasi dan fermentasi, limbah urin ternak yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal diolah menjadi pupuk organik cair bernilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan.

Ketua Tim PkM Fapet Unsoed, Prasetyo, M.P., mengatakan bahwa pengelolaan limbah peternakan masih menjadi tantangan di banyak daerah. Padahal, apabila diolah dengan teknologi yang tepat, limbah tersebut mampu menjadi sumber pendapatan baru bagi kelompok peternak.

“Kami ingin membuktikan bahwa hasil penelitian di perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui teknologi pengolahan biourine ini, limbah peternakan dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan,” ujar Prasetyo.

Dalam kegiatan tersebut, tim memperkenalkan instalasi pengolahan biourine sederhana yang mudah dioperasikan oleh peternak. Teknologi ini memanfaatkan mikroba lokal (MOL) sebagai starter fermentasi serta ekstrak tanaman Gamal (Gliricidia sepium) sebagai bahan pengaya nutrisi, sehingga kualitas pupuk organik cair yang dihasilkan menjadi lebih baik.

Selain transfer teknologi, tim juga memberikan pendampingan pengelolaan limbah secara terpadu. Wilis Cahyani bertanggung jawab pada pelatihan pembuatan kompos, sedangkan Danang Nurcahyo mendampingi penguatan kelembagaan kelompok agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Prasetyo menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan sengaja mengoptimalkan sumber daya lokal agar mudah direplikasi oleh masyarakat.

“Kami memanfaatkan mikroba lokal dan tanaman Gamal yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan peternak. Harapannya, teknologi ini tidak bergantung pada bahan yang mahal sehingga dapat diterapkan secara mandiri dan berkelanjutan,” katanya.

Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Heru Sugianto, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok tani merupakan langkah strategis dalam mempercepat adopsi inovasi di sektor pertanian dan peternakan.

“Inovasi seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat. Ketika hasil penelitian dapat diterapkan secara langsung dan memberikan nilai tambah ekonomi, maka manfaatnya akan jauh lebih besar dibandingkan hanya berhenti sebagai hasil riset,” ungkap Heru.

Bagi anggota KTT Purbalingga Farm, teknologi ini membuka peluang usaha baru melalui pengolahan limbah peternakan menjadi produk yang memiliki nilai jual. Selama ini, limbah ternak lebih banyak dipandang sebagai persoalan lingkungan, padahal dengan sentuhan inovasi dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi kelompok.

Ketua KTT Purbalingga Farm berharap pendampingan dari perguruan tinggi dapat terus berlanjut sehingga kelompok mampu memproduksi dan memasarkan biourine secara mandiri.

“Kami optimistis produk ini dapat menjadi sumber pendapatan harian bagi anggota kelompok. Yang kami harapkan ke depan bukan hanya pelatihan, tetapi juga pendampingan hingga produk benar-benar mampu dipasarkan secara luas,” ujarnya.

Ia juga berharap semakin banyak dosen yang mengimplementasikan hasil penelitiannya secara langsung kepada masyarakat sehingga inovasi yang dihasilkan benar-benar memberikan dampak ekonomi dan sosial.

Melalui program ini, Fapet Unsoed berupaya memperkuat hilirisasi riset melalui pengabdian kepada masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan kelompok tani diharapkan mampu mempercepat terwujudnya sistem pertanian yang lebih produktif, berdaya saing, sekaligus berkelanjutan.

Ke depan, keberhasilan program ini diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi sirkular di sektor peternakan, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

  • Share

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman