Dari Jagung ke Sapi, dari Kotoran Menjadi Kompos: Fapet Unsoed Hilirkan Riset Biokulturmix melalui PKM Berbasis Riset

# # #

Dari Jagung ke Sapi, dari Kotoran Menjadi Kompos: Fapet Unsoed Hilirkan Riset Biokulturmix melalui PKM Berbasis Riset

fapet.unsoed.ac.id – Limbah pertanian dan peternakan tidak harus berakhir sebagai buangan. Melalui penerapan teknologi hasil riset, limbah dapat kembali masuk ke dalam siklus produksi dan memberikan nilai tambah bagi petani. Konsep inilah yang dikembangkan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Berbasis Riset pada Kelompok Tani Ternak Mukti Mandiri, Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.

Program yang didanai melalui BLU Universitas Jenderal Soedirman tersebut diketuai Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, M.P., IPU, ASEAN Eng, dengan anggota Prof. Dr. Ir. Triana Setyawardani, M.P., IPU, ASEAN Eng, Prof. Dr. Ir. Caribu Hadi Prayitno, M.P., IPU, Ari Dwi Nurasih, M.Biotech, dan Prasetyo, M.Pt.

Kegiatan laporan Pemberdayaan Kelompok Tani Ternak bertema “Pemberdayaan Kelompok Tani Ternak Mukti Mandiri (Integrasi Sapi Potong dan Jagung) dalam Peningkatan Produksi Kompos Menggunakan Biokulturmix Menuju Smart Farming” tersebut dilaksanakan pada Jum’at, 28 Agustus 2026 bertempat di Ruang 140 Fapet Unsoed dan diikuti sekitar 10 anggota Kelompok Tani Ternak Mukti Mandiri.

Membangun Siklus Pertanian dan Peternakan

Program ini mengembangkan pola simbiosis antara usaha pertanian dan peternakan. Tanaman jagung dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia, sedangkan limbah tanaman yang tidak dimanfaatkan dapat digunakan sebagai bahan pakan sapi potong. Dari kegiatan peternakan tersebut, feses sapi selanjutnya diolah menjadi bahan pupuk organik untuk dikembalikan ke lahan pertanian.

Dengan pola tersebut, terbentuk siklus pemanfaatan sumber daya: jagung menghasilkan pangan dan limbah tanaman, limbah dimanfaatkan sebagai pakan sapi, sapi menghasilkan feses, dan feses diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung pertanian.

Pendekatan ini mengubah cara pandang terhadap limbah. Sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sisa justru dapat menjadi bahan baku yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi apabila dikelola dengan teknologi yang tepat.

Ketika Hasil Riset Turun ke Masyarakat

Kekuatan program ini terletak pada penerapan hasil riset secara langsung. PKM Berbasis Riset menjadi ruang hilirisasi pengetahuan dan inovasi perguruan tinggi agar dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Arah tersebut sejalan dengan kebijakan Kemdiktisaintek yang mendorong agar hasil riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi dapat dihilirkan menjadi solusi konkret yang memberikan dampak dan nilai tambah bagi masyarakat.

Dalam kegiatan ini, hasil riset tersebut diwujudkan melalui penggunaan Biokulturmix sebagai aktivator dalam pembuatan kompos.

Dr. Agustinah Setyaningrum memberikan pemahaman mengenai kompos, kompos organik, bahan penyusun, hingga proses pembuatannya. Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan melalui praktik pengolahan bahan organik, khususnya feses sapi, menjadi kompos.

Yang membuat teknologi ini semakin kuat dari sisi inovasi adalah Biokulturmix merupakan hasil riset Dr. Agustinah Setyaningrum yang telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

HKI tersebut menjadi bagian penting dari rekam jejak inovasi yang dibawa dalam program PKM. Hasil pengembangan akademik tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi mulai diperkenalkan dan diterapkan oleh masyarakat sesuai kebutuhan di lapangan.

Dari Feses Sapi Menjadi Produk Bernilai

Melalui kegiatan tersebut, anggota kelompok tani ternak tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga pengalaman aplikatif dalam mengolah bahan organik menggunakan aktivator Biokulturmix. Proses fermentasi kompos yang diperkenalkan berlangsung sekitar 14 hari.

Bagi kelompok tani ternak, penerapan teknologi ini membuka peluang pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka. Feses sapi yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan dapat diolah menjadi pupuk organik yang mendukung kegiatan pertanian.

Di sinilah konsep smart farming berbasis potensi lokal dibangun. Smart farming tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks, tetapi dapat diawali dari kemampuan petani mengintegrasikan lahan, tanaman, ternak, limbah, dan teknologi hasil riset dalam satu sistem yang saling mendukung.

Bagi Fapet Unsoed, program ini sekaligus menjadi bentuk nyata keterhubungan riset, inovasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Sementara bagi Dr. Agustinah, hilirisasi Biokulturmix melalui PKM menjadi bukti bahwa hasil riset dan HKI dapat bergerak dari ruang akademik menuju pemanfaatan nyata di tengah masyarakat.

Dari jagung menjadi pangan, dari limbah tanaman menjadi pakan, dari feses sapi menjadi kompos—sebuah siklus sederhana yang mempertemukan riset dan kebutuhan masyarakat untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.

  • Share

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman